Medan 11 Desember 2025 — Panitia Natal Nasional 2025 secara resmi kembali menggelar rangkaian Seminar Natal Nasional yang berlangsung di sembilan kota di Indonesia. Mengusung tema Natal Nasional 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” yang terinspirasi dari Matius 1:21–24, kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keluarga sebagai pusat pembentukan karakter, iman, dan ketahanan sosial bangsa. Seminar ini diselenggarakan oleh Panitia Seminar Nasional sebagai bagian dari agenda resmi Natal Nasional 2025, selain bakti sosial dengan menyalurkan 10.000 paket bansos, bantuan bencana di Sumatera juga Jawa Timur, beasiswa di 10 wilayah prioritas senilai 10 Milyar, perbaikan 100 gereja, dan bantuan 35 ambulans di lebih dari 10 titik wilayah di Indonesia. Total bantuan yang sudah dan akan dibagi lebih dari 40 Milyar, tidak menggunakan dana APBN. Data terkini, panitia mencatat dana yang sudah terkumpul mencapai Rp 47 miliar melalui gotong royong besar lintas agama. Dari Umat Kristiani, Muslim, Buddha, dan masyarakat umum berbagai latar belakang sosial, solidaritas yang mencerminkan semangat persaudaraan kebangsaan serta melampaui sekat perbedaan agama. Panitia juga telah menetapkan komposisi penggunaan dana 70% untuk bantuan sosial dan 30% untuk penyelenggaraan acara. Secara khusus, pelaksanaan seminar nasional ini bekerjasama dengan berbagai lembaga keagamaan, universitas, organisasi kepemudaan, serta pemerintah daerah, seminar diharapkan mampu memberi pemetaan tantangan keluarga-keluarga di berbagai daerah di Indonesia. Panitia juga berencana menerbitkan buku dalam bentuk elektronik agar bisa dibaca dan menjadi ruang refleksi yang kaya, relevan, dan berdampak bagi keluarga Indonesia di tengah tantangan zaman. Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait, menyampaikan bahwa seminar ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi momentum penting untuk mengajak masyarakat melihat kembali peran keluarga sebagai fondasi kehidupan. “Melalui seminar di sembilan kota ini, kita ingin menghadirkan dialog yang membangun tentang bagaimana keluarga Indonesia dapat terus kuat, saling mendukung, dan tetap menjadi tempat pertama di mana nilai kasih dan harapan itu tumbuh.” ujar Maruarar dalam keterangan resminya. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan seminar di berbagai wilayah, dari barat hingga timur Indonesia, menjadi bukti komitmen Panitia Natal Nasional 2025 untuk menjangkau masyarakat seluas mungkin. Rangkaian kegiatan telah dibuka sejak tanggal 10 Desember 2025 di Bandung melalui kolaborasi dengan Universitas Parahyangan dan PMKRI juga digelar di Manado (11 Desember 2025) bersama IAKN Manado, UKIT, GMIM, dan SAG, serta di Palangkaraya (12 Desember 2025) melalui kerjasama dengan Keuskupan Palangkaraya, IAKN Palangkaraya, dan STIPAS Tahasak Danum Pambelum. Kegiatan juga berlangsung di Ruteng (13 Desember 2025) dengan dukungan Unika St. Paulus Ruteng dan Keuskupan Ruteng; di Ambon (15 Desember 2025) bersama UKIM, GPM, IAKN Ambon, dan BKAG; di Toraja (18 Desember 2025) bersama UKI Toraja, Gereja Toraja, IAKN Toraja; di Merauke (19 Desember 2025) bersama Keuskupan Merauke dan PMKRI. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan seminar utama di Jakarta (3 Januari 2026 yang diselenggarakan bersama STFT Jakarta dan Kementerian Agama RI. Seminar Nasional di Kota Medan kolaborasi bersama GMKI, PGIW, dan Universitas HKBP Nommensen mengambil sub tema: Iman Ekologi sebagai Harmoni Keluarga dan Alam. Fokus kepada kerusakan lingkungan yang terjadi, gereja harus bersinergi dengan berbagai komponen untuk mencegah kerusakan lingkungan semakin parah. Bahwa bencana di Sumatera adalah bencana ekologis. Seminar ini dihadiri oleh 868 peserta. Koordinator Seminar Natal Nasional, Pdt. Prof. Binsar J. Pakpahan menyatakan bahwa setiap kota menyelenggarakan seminar sehari penuh dengan format pemaparan materi, dialog interaktif, serta penyusunan rekomendasi mengenai penguatan keluarga Indonesia. Hasil dari publikasi online rekomendasi kebijakan dan edukasi keluarga di Indonesia akan dilakukan di pelaksanaan Natal Nasional 2025, yaitu pada 5 Januari 2026. Seluruh seminar tersebut diharapkan dapat berkontribusi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat luas dalam memperkuat fondasi keluarga Indonesia. Melalui pesan Natal oleh Pdt. Lenta Enny Simbolon, MDiv, MTh menyampaikan bahwa perpisahan bahkan perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, gap generasi, fatherless, masalah ekonomi, judi online (judol), pinjaman online (pinjol), narkoba, individualisme, materialisme, bencana dan lain-lain menjadi tantangan keluarga masa kini. “Keluarga adalah tempat suami dan istri, ibu dan bapak mengambil peran yang setara dan bertanggung jawab terhadap pasangannya, anak-anak, dan siapapun yang Tuhan tempatkan dalam keluarga karena keluarga adalah gereja kecil, tempat di mana kasih Kristus pertama-tama dihidupi,” ujarnya. Ephorus HKBP Pdt. Dr. Victor Tinambunan, MST dalam materinya juga turut menyampaikan dukungan agar gereja dan masyarakat membuat gerakan ekologi secara bersama sebab kita berada di bumi yang Tuhan ciptakan. Senadanya dengan hal tersebut Juniver Girsang, Opung Sorbatua Siallangan, Jhontoni Tarihoran, Marthin Hutabarat dan Prima Surbakti turut menyampaikan dukungan terhadap kondisi ekologi di Sumut. Secara hukum, konsolidasi mayarakat dalam menghadapi kerusakan lingkungan akan didukung dengan membangun gerakan kolektif baik dari tataran nasional hingga ke akar rumput. Seminar ditutup dengan deklarasi bersama dan tanda tangan Petisi Tutup TPL. Narahubung: Basar Daniel (081222470324)
Natal Nasional dan Persembahan untuk Palestina: Pro dan Kontra
Perdebatan kini sedang menggelinding. Bola licin persembahan Natal untuk membantu rakyat Palestina yang ditendang Maruarar Sirait selaku Ketua Panitia Natal Nasional ditanggapi beragam. Pro dan kontra pun terjadi. Pertanyaannya, mengapa rencana pemberian persembahan Natal Nasional kepada rakyat Palestina menjadi perdebatan sepanas ini, seperti yang kita saksikan sekarang di media-media sosial? Konflik Israel-Palestina dan Sensitivitas Kita Konflik Israel-Palestina, tak bisa dipungkiri, telah ikut merambah ke dalam memori dan psikologi orang Indonesia. Naik turunnya eskalasi konflik di sana, ternyata ikut memengaruhi juga tensi kita di Indonesia. Bahkan, konflik di Timur Tengah itu telah ikut menciptakan segregasi di masyarakat Indonesia. Ada yang mendukung Israel, ada pula yang mendukung Palestina. Ajaibnya, segregasi itu secara kasar menyeret masyarakat dari kelompok-kelompok agama yang berbeda di Indonesia. Padahal, konflik Israel-Palestina bukanlah perang agama. Namun, karena konflik Israel-Palestina ditafsir berdasarkan persepsi bahwa konflik itu adalah konflik agama, maka isu Israel-Palestina menjadi begitu sensitif untuk orang Indonesia. Karena itu, ketika Maruarar Sirait menyampaikan rencana pemberian persembahan Natal Nasional untuk rakyat Palestina, maka hal tersebut langsung mendapatkan reaksi masyarakat. Ada yang mencibir, dan ada yang mengapresiasi. Pro-Kontra Yang mencibir bahkan menghujat Bang Ara, sapaan akrap Maruarar Sirait, sebagai Yudas. Maruarar dianggap “membeli” kepanitiaan Natal Nasional dan “menjualnya” untuk mendukung Palestina, sebagai bagian dari cara Maruarar menjilat Presiden Prabowo yang sedang getol mendukung Palestina-Israel sebagai dua negara yang sama-sama berdaulat. Yang kontra juga berdalih kenapa harus jauh-jauh ke Palestina, rakyat Papua juga membutuhkan bantuan. Belakangan dengan kejadian banjir bandang di Sumatera Utara, maka muncul aspirasi supaya persembahan Natal Nasional diberikan saja kepada para korban bencana alam. Untuk apa persembahan Natal diberikan kepada rakyat Palestina yang nun jauh di sana, sedangkan di sini ada yang membutuhkan. Dari pendapat yang kontra itu, kita dapat melihat berkelindannya sensitivitas isu pro kontra Israel-Palestina dengan politik ketidaksukaan terhadap Maruarar Sirait yang adalah Menteri Perumahan dan Kawasan Pemukiman, dan kebetulan sekarang menjadi ketua Panitia Natal Nasional. Sebagai bagian dari rezim pemerintahan, wajar saja kalau Maruarar Sirait satu garis dengan Prabowo soal dukungan kemanusiaan bagi rakyat Palestina. Dan bagi yang pro ajakan Maruarar, mereka berpandangan bahwa persembahan bagi rakyat Palestina itu tidaklah salah. Malahan hal tersebut merepresentasikan kasih Kristus yang tak kenal batas. Tindakan solidaritas tersebut sama seperti kasih dari orang Samaria yang murah hati. Orang Samaria memberikan cintanya tanpa mengenal sekat suku dan agama, orang luar atau orang dalam. Jadi, dalam konteks pemberian persembahan Natal, kenapa harus pula dibatasi ke dalam, kepada masyarakat Indonesia dulu, baru ke luar? Selama ini, tokh rakyat Papua, misalnya, juga mendapatkan perhatian dan kasih dari masyarakat dunia. Saat terjadi bencana seperti tsunami, warga internasional berbondong-bondong menyatakan belarasa dengan masyarakat kita di Indonesia, seperti di Aceh dan Nias. Saat ini kita sudah hidup dalam semangat kosmopolitan di dunia yang mengglobal. Batas-batas tradisional dan nasionalisme yang sempit itu meluruh, dan kita dipersatukan dalam rasa perikemanusiaan sebagai warga dunia. Jadi, tidak tepat, menurut yang pro, untuk berpikir ke dalam dulu baru ke luar. Bukan berarti kita kemudian melupakan Papua, atau melupakan masyarakat yang menderita karena banjir bandang di Sumatera Utara. Kalau ke luar saja kita bisa begitu bersemangat untuk memberi, maka ke dalam pun berbagi itu sudah sesuatu yang wajar dan harus. Politisasi Bikin Menyala Di Indonesia, bara kecil saja bisa membakar hutan yang lebat. Hembusan angin politisasi membuat isu kecil yang remeh temeh bisa menyala membakar dan mengalihkan perhatian kita dari persoalan-persoalan krusial di bangsa ini. Sebab, banyak hal didekati dan dilihat dengan kaca mata politisasi. Mengapa bisa? Sebab ada banyak jerami kering yang siap di bakar di negara ini. Mulai dari kurangnya literasi, fundamentalisme dan radikalisme agama, sampai fakta kesenjangan sosial dan ketidakadilan yang begitu telanjang di masyarakat Indonesia. Para bandit politik lalu memanfaatkan semua fakta ini untuk mencari posisi atas nama demokrasi, tetapi bukan untuk melayani. Lalu, kita pun terjebak dalam labirin politisasi yang miskin substansi. Refleksi Natal Jerami kering seperti yang disebutkan itu sebenarnya bukan barang baru. Yesus sendiri lahir dalam situasi jerami kering itu. Bahkan, karena masalah-masalah riil itulah Ia datang menjelmakan kehadiran Allah di dalam dunia. Namun, yang membedakan adalah saat Yesus datang dahulu, tidak ada panitia. Bahkan, secara nasional, ada rencana elit dan istana untuk membunuh Dia. Pengusaha pun tak ada yang mempersiapkan uang untuk berdonasi atau menyiapkan hotel mewah untuk menyambut kelahiran-Nya. Ia malah lahir di tempat yang teramat sederhana. Bukan pejabat yang menyambutnya, tetapi rakyat biasa. Orang-orang yang terbuang. Mereka yang dicap kafir dengan profesi menjijikkan seperti gembala yang datang melihat-Nya. Hal itu mengingatkan kita yang merayakan Natal Kristus di masa sekarang ini untuk menyatakan belarasa Allah dengan tulus, tanpa sekat, tanpa politisasi; dan kita diundang-Nya untuk mewujudkan kasih dan keadilan Allah bagi mereka yang marginal, orang-orang kecil yang menderita, baik yang ada di Papua maupun yang ada di Palestina. Undangan Allah ini ditujukan untuk rakyat jelata seperti Anda dan saya, maupun untuk pejabat yang tinggal di istana dan mereka yang punya kuasa. Dan kalau hari ini ada Panitia Natal Nasional, kita syukuri saja, sebab ada orang istana yang mau ikut merayakan Natal. Sebagai bagian dari istana, tentu saja mereka akan merayakan Natal dengan “protokol” istana. Biarkan saja! Akan tetapi, kita dapat menyampaikan harapan dan mengingatkan pemerintah dan gereja-gereja bahwa merayakan Natal itu tidak cukup dengan mengumpulkan persembahan untuk disumbangkan bagi rakyat Palestina yang memang menderita dan membutuhkan bantuan. Rantai penindasan dan penjajahan yang tidak manusiawi, yang menyebabkan rakyat kecil menderitalah yang harus diputuskan, karena itulah yang mau dilakukan Allah dalam peristiwa Natal. Peristiwa Natal mengingatkan manusia bahwa Kristus datang untuk mendamaikan segala sesuatu dengan Allah. Oleh karena itu, merayakan Natal dan mengumpulkan persembahan bagi korban kejahatan perang di Palestina harus disertai dan dibarengi juga dengan komitmen untuk tidak mengorbankan rakyat dan alam Papua dalam arus pembangunan nasional di negara kita. Lembaga agama (baca: gereja) dan pemerintah tidak bisa di saat yang bersamaan merayakan Natal dan terus membabat hutan sehingga terjadi longsor di berbagai daerah, seperti di Sumatera Utara. Merayakan Natal tidak boleh dilakukan dengan menjarah emas dan nikel dengan merusak alam seperti yang terjadi di Morowali dan di daerah lain. Merayakan Natal harus dilakukan dengan kejujuran untuk memanusiakan manusia dan melestarikan alam sebagai panggilan
Etika dan Moral Dalam Tata Kelola Organisasi Nirlaba di Indonesia
Organisasi nirlaba memiliki sejarah panjang sejak dulu, namun konsep modernnya dimulai pada abad ke-19 dengan munculnya organisasi amal dan upaya filantropis. Organisasi ini bekerja secara profesional untuk mencapai tujuan kepentingan publik dengan tidak mencari laba atau keuntungan moneter untuk pemilik organisasinya. Contoh yang umum adalah organisasi keagamaan, institusi pendidikan, kesehatan, seni budaya, bantuan hukum, serikat pekerja, hingga urusan lingkungan. Di Indonesia, organisasi nirlaba mulai bermunculan pada akhir tahun 1970-an, sebagai gerakan yang memperjuangkan perubahan bagi kelompok yang termarjinalkan. Sebutan non-governmental organization (NGO) mulai dikenal ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berusaha membedakan antara badan-badan antar pemerintah dengan organisasi swasta yang mulai didirikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia pasca Perang Dunia Kedua. Namun, bagi Pemerintah Indonesia saat itu, istilah NGO berkonotasi negatif, yaitu seakan-akan melawan pemerintah (Saidi, 1995, pp. 9), sehingga disebutlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). Undang-Undang (UU) No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, pertama kali yang memperkenalkan istilah LSM dalam konteks legal di Indonesia. LSM, dalam UU ini, didefinisikan sebagai organisasi yang tumbuh secara swadaya di tengah masyarakat dan berfokus pada kegiatan lingkungan hidup. Kemudian ada UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), sebutan untuk LSM yang banyak bergerak di isu sosial. Umumnya, LSM berlegalitas yayasan atau perkumpulan. Jika memilih bentuk yayasan, dapat mengacu pada UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang telah diperbarui menjadi UU Yayasan No. 28 Tahun 2004. Sementara, jika tidak mengambil bentuk Ormas, dapat sebagai perkumpulan berbadan hukum (persona stand injuditio), dengan pengajuan Surat Keputusan Kementerian Hukum dan HAM (SK Kemenkumham) setelah pembuatan akta pendirian perkumpulan dengan Notaris. Berbeda dengan yayasan, yang merupakan organisasi non-anggota, perkumpulan didirikan atas dasar keanggotaan (Atlov et al., 2006). Organisasi nirlaba, LSM, termasuk ormas di Indonesia berperan krusial dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, perekonomian Indonesia tumbuh 5,05% (yoy) pada tahun 2023. Organisasi yang termasuk ke dalam sektor Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencapai pertumbuhan tertingginya sebesar 18,11% (yoy) pada kuartal IV-2023, dan berkontribusi sebesar 1,36% terhadap perekonomian nasional. Namun, kasus penyelewengan dana oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada 2022 menyoroti pentingnya etika dan tata kelola yang baik (good governance) untuk menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan organisasi. Bastian (2007) berpendapat bahwa good governance dalam artian umum adalah tata kelola pemerintahan yang baik, yang tidak terbatas hanya sektor pemerintahan saja, namun juga terkait dengan penyelenggaraan organisasi publik lainnya, termasuk di dalamnya LSM. Kasus ACT: Menurunkan kepercayaan terhadap LSM Aksi Cepat Tanggap (ACT), salah satu yayasan filantropi terbesar di Indonesia yang didirikan sejak 2005 dan dapat mengumpulkan dana 500 miliar rupiah per tahun, menghadapi skandal penyelewengan dana pada 2022. ACT berawal dari kegiatan tanggap darurat, kemudian mengembangkan kegiatannya ke program pemulihan pasca bencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat, dan Wakaf. ACT bahkan menjadi organisasi yang menginspirasi pemerintah untuk membentuk BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kegiatan filantropi ACT tidak hanya di dalam negeri saja, bahkan sampai ke 22 negara. Laporan investigasi Majalah Tempo edisi 2 Juli 2022 mengungkap bahwa ACT memotong 23-30% dana donasi untuk operasional. Dana tersebut digunakan untuk gaji petingginya hingga 250 juta rupiah per bulan, pembelian mobil mewah, dan pembangunan rumah pribadi. ACT juga menyelewengkan 34 miliar rupiah dana donasi dari Boeing untuk korban kecelakaan Lion Air JT-610. Dana tersebut dialihkan untuk koperasi syariah 212 sebesar 10 miliar rupiah, pembangunan pesantren 8,7 miliar rupiah, dan keperluan lain yang tidak sesuai peruntukan. Pada Juli 2022, Kementerian Sosial mencabut izin operasional ACT. Bareskrim Polri menetapkan empat petingginya sebagai tersangka atas tuduhan penggelapan dan pencucian uang, dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara. Kasus ACT menunjukkan bagaimana petinggi organisasi dapat menyalahgunakan dana untuk kepentingan pribadi, seperti gaji berlebihan atau pembelian aset mewah. Kurangnya pengawasan internal memperburuk masalah ini. S idik (2022) dalam artikelnya di DetikNews pada 1 Agustus 2022, menuliskan bahwa survei oleh Media Survei Nasional (Median) pada 2023 menunjukkan bahwa 44,7% masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap LSM pasca-kasus ACT. Hal ini berdampak pada sulitnya penggalangan dana dan keberlanjutan operasional berbagai LSM. Regulasi dalam Tata Kelola Organisasi Nirlaba LSM harus mematuhi regulasi-regulasi yang telah ada untuk mencegah penyalahgunaan. Dalam UU Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (PUB) sayangnya tidak mengatur secara eksplisit standar komisi atau akuntabilitas kepada donatur. Hal ini menciptakan celah untuk penyalahgunaan dana, seperti dalam kasus ACT. Walaupun sudah ada standar akuntansi seperti PSAK 45 (Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba), yang saat ini telah digantikan oleh ISAK 35, namun bagaimana standar tersebut dilakukan banyak bergantung pada komitmen institusi yang bersangkutan. Pedoman Umum Governansi Organisasi Nirlaba Indonesia (PUG-ONI) juga telah diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), organisasi nirlaba harus menyusun laporan tahunan yang mencakup kegiatan dan keuangan secara transparan. Struktur organisasi yang jelas, seperti yang memiliki dewan pengawas dan pengurus yang independen, meminimalkan konflik kepentingan. PUG-ONI merekomendasikan pemisahan tugas antara pembina, pengurus, dan pengawas untuk mendukung pengambilan keputusan yang objektif. Etika dan Moral menjadi pondasi Good Governance Penelitian yang dilakukan Dwi Sektiono dan Rini Nugraheni tahun 2016 menyatakan ACT sebenarnya telah mengimplementasikan good governance sesuai 14 prinsip yang dikembangkan Tim Pengembangan Kebijakan Tata Kepemerintahan yang Baik oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Empat belas prinsip tersebut meliputi visi, transparansi, partisipasi, akuntabilitas, supremasi hukum, demokrasi, profesionalisme, daya tanggap, efisien-efektif, desentralisasi, kemitraan, komitmen kesenjangan, komitmen lingkungan, dan komitmen keadilan pasar. Bahkan laporan keuangan lembaga tersebut sudah diaudit dan mendapat opini tertinggi yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Proses Audit dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Heliantono dan Rekan yang telah diketahui Kementerian Keuangan. Kenyataan bahwa terjadi penyalahgunaan dana ACT oleh para pengelola, menunjukkan diperlukannya analisis lebih dalam dari sekadar prinsip tata kelola, yakni mengenai etika dan moral sebagai latar belakang dan pondasi implementasi tata kelola dalam organisasi, termasuk sebagai dasar pengambilan keputusan. Domènec Melé (2019) dalam bukunya berjudul “Business Ethics in Action“, menuliskan bahwa pengambilan keputusan tidak hanya tentang rasionalitas instrumental (ekonomi). Dibutuhkan rasionalitas penuh, mencakup dimensi moral dan nilai-nilai, bukan hanya efisiensi atau tujuan jangka pendek. Sedangkan rasionalitas instrumental hanya berfokus pada cara tercepat atau termurah, bukan pada apa yang benar. Kasus ACT menjadi pelajaran berharga, jika good governance
BILANGAN FU: Spiritual Kritik Bagi Para Pemuja Monoteisme
Waktu pertama kali saya melihat judulnya, pikiran saya sempat ‘mampir’ pada Supernova Dewi Lestari. Tapi akhirnya, warna Supernova itu pun luntur dengan sajian alur cerita Ayu Utami. Ceritanya bisa dibilang tetap ada kisah cintanya. Namun, kisah cinta yang ini memang agak unik (kalau tidak kita sebut ‘aneh’) dan misteri. Ketiganya adalah para pemanjat tebing/gunung. Tapi yang paling mendominasi jelas bukan kisah cinta antara Yuda, Marja dan Parang Jati. Oya, Yuda dalam novel ini adalah seorang yang modern, kurang punya etika bertutur (kalau bodoh ya bodoh saja), tidak suka hal-hal mistis meski percaya Tuhan. Yuda, sebelum bertemu Parang Jati, bersama timnya, selalu melakukan ‘pemanjatan kotor’ yang justru merusak alam dan hanya melihat pemanjatan sebagai ‘penaklukan’ dan unjuk kekuatan semata. Marja, adalah perempuan kekasih Yuda, yang dalam perjalanannya entah bagaimana juga terikat kisah cinta dengan Parang Jati. Marja agak aleman tapi juga memiliki kekuatan yang tak dimiliki kaum pria. Sedangkan Parang Jati adalah seorang pemuda berjari tangan 12 (yang sering kita pandang ‘tidak normal atau tak lumrah’), yang sangat menghormati keberagaman. Dia, dalam novel ini, banyak mengutip kata-kata Yesus dalam konteks Kotbah Di Bukit. Dia mengerti benar bahwa agama-agama lokal (kejawen dsb.) justru memiliki nilai-nilai yang memelihara alam ketimbang klaim kaum monoteis yang dogmatik dan cenderung abai pada lingkungan hidup. Parang Jati tidak membuat agama baru namun ia, bersama Yuda dan Marja, menggagas sebuah ide yang disebut sebagai “laku kritik” atau spiritualitas kritik, atau dia sebut Neo-Kejawan. Parang Jati-lah yang memperkenalkan Yuda pada praktik ‘pemanjatan bersih’, yang memiliki makna sebaliknya dari ‘pemanjatan kotor’. Pada puncaknya ia harus berseberang dengan adik kandungnya sendiri, Kupukupu alias Farisi yang memuja monoteisme dengan salah kaprah, fanatisme. Hingga akhirnya Parang Jati harus kehilangan nyawanya, karena pandangannya tentang Tuhan yang satu tak sejalan dengan Farisi. Yang membuat saya tersenyum geli manakala membayangkan si Farisi beserta laskar para pengikutnya, berkostum persilangan antara harajuku Samurai X dengan Pangeran Diponegoro. Dalam novel ini juga kita akan belajar bahwa kebenaran adalah future tense, sedangkan kebaikan adalah saat ini. Tak satu manusia pun layak mengklaim kebenaran yang mutlak dan misteri itu. Tuhan yang kita kenal dalam angka satu itu ternyata telah kehilangan kemisteriusanNya, kemahaanNya, karena manusia telah membatasinya dalam angka satu. Angka nol dalam novel ini justru diangkat sebagai angka yang lebih dekat dengan sifat ketakberhinggaan Tuhan itu sendiri. Bahwa keinginan-keinginan manusia pemuja monoteisme itu untuk memutlakan kebenaran-kebenaran dengan cara ‘mempersetankan’ dan atau ‘mempersesatkan’ pihak yang tak sejalan justru adalah sebuah ekspresi pemerkosaan spiritualitas dalam birahi menggapai kekuasaan dan berkuasa atas yang lain. Hmmm… Kalau saja novel Ayu Utami yang juga ada bau-bau politisnya ini diangkat ke layar lebar. Novel ini kontekstual dengan kondisi bangsa kita saat ini. Akhirnya… Sebuah pertanyaan pun muncul. “Apakah dengan Tuhan Yang Esa itu, saya masih bisa menggunakan sikap kritik untuk menyangga (menanggung) kebenaran atau justru mengambil sikap taken for granted untuk menguasai, memperkosa dan memutlakkan kebenaran – yang misterius – itu?” **DW Judul: Bilangan fu Penulis: Ayu Utami Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008 ISBN: 9799101220, 9789799101228 Tebal: 536 halaman
TACO dan Pendidikan: Berkolaborasi Menciptakan Interior Masa Depan
TACO salah satu mitra dalam event Nava Sajiva memberikan kuliah umum dan sesi workshop bertajuk Modular Furniture, Rabu 22 Januari 2025 lalu di Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Pre-Event Nava Sajiva yang dilaksanakan selama tiga hari yaitu 21-23 Januari 2025, sedangkan Main Event sendiri akan dilaksanakan pada 12-18 Februari 2025 di Atrium Paskal 23 Shopping Centre. Peserta yang hadir berasal dari Prodi Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, Institut Seni Budaya Indonesia, International Woman University, Bina Nusantara (BINUS), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan Universitas Komputer (UNIKOM). Selain itu siswa/i dari SMAK BPK PENABUR dan PKBM Buana Mekar pun turut hadir mengikuti sesi yang dibawakan oleh TACO. TACO merupakan perusahaan manufaktur yang menawarkan berbagai solusi interior, seperti High Pressure Laminates (HPL), PVC Sheet, Edging, Hardware, Lantai Vinyl-SPC, dan lem kuning serbaguna. Telah mendapatkan berbagai sertifikasi bergengsi, termasuk SNI, ISO, Top Brand, Singapore Green Label, dan TKDN, yang memperkuat posisinya sebagai Merek Nasional Premium. Pada sesi workshop para peserta belajar mengaplikasikan produk TACO untuk finishing nakas yang merupakan salah satu furniture interior yang cukup umum digunakan di kalangan masyarakat luas. Mereka beradaptasi serta membangun kerjasama kelompok untuk dapat menyelesaikan tugas. Peserta belajar bagaimana mengaplikasikan lem, mengukur dan menempel HPL pada kayu yang menjadi rangka nakas. Dengan adanya kegiatan workshop tersebut peserta bukan hanya mendengar materi berupa teori, melainkan diberikan wadah untuk langsung mengaplikasikan teknik yang mereka dapat pada sesi pengenalan produk. Sehingga hardskill dan wawasan para peserta semakin luas juga mendapatkan pengalaman yang berharga. Mari nantikan rangkaian Nava Sajiva selanjutnya karena masih banyak lagi hal-hal yang dapat dipelajari sehingga menambah wawasan dan ilmu. Jangan sampai ketinggalan! ***(Roswati)
Mengembangkan Pendidikan Desain di Indonesia ala Roman: Berbagi Ilmu Itu Indah
Telah berlangsung Pre-event Nava Sajiva di Universitas Kristen Maranatha Bandung Selasa, 21 Januari 2025 lalu. Nava Sajiva sendiri merupakan proyek kolaborasi dari para desainer interior, akademisi, dan industri bersama bidang-bidang ilmu lainnya seperti arsitektur, teknik sipil, sistem informasi, dan bahkan bidang ilmu hukum yang baru pertama kalinya diadakan di Bandung. Acara ini diselenggarakan oleh Program Sarjana Desain Interior, Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Acara pre-event ini dimulai dengan sambutan Dekan Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) Dr. Krismanto Kusbiantoro, S.T., M.T., CIQaR lalu dilanjutkan dengan gunting pita sebagai tanda acara telah dibuka. Terdapat pula berbagai rangkaian kegiatan diantaranya workshop, sesi product knowledge, lomba, dan sharing dari mitra industri juga profesi sehingga peserta memperoleh wawasan langsung tentang tren dan teknologi terkini. Kegiatan hari pertama diawali dengan materi “Public Space Material for Interior and Exterior” dengan Roman sebagai sponsor utama. Roman sendiri adalah merek keramik utama di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun. Di acara tersebut para mahasiswa dari Universitas Kristen Maranatha dan kampus lainnya di Bandung mempelajari inovasi produk dan perkembangan teknologi ubin produksi Roman dalam dunia desain interior dan eksterior. Kualitas material Roman yang ideal untuk area dengan lalu lintas tinggi, finishing eksterior yang tahan cuaca, dan solusi yang berkelanjutan menjadi bagian penting yang dipelajari lewat sharing pengalaman dan praktik langsung pemasangan ubin Roman. Bapak Adi Suryadi, S.T. selaku Marketing Manager Roman memaparkan perkembangan produk Roman dari mulai merintis hingga akhirnya mendapatkan sertifikasi internasional. Walaupun sudah dikenal secara internasional di lebih dari sembilan puluh negara, dengan senang hati Roman membagikan wawasan terkait teknik dan produk terkini yang dapat menyelesaikan masalah interior dan eksterior bangunan dalam bidang ceramic and tiles kepada para mahasiswa. Penggunaan teknologi serta keberanian dalam inovasi membawa Roman mendapatkan kategori produk kelas 1a, dimana produk tersebut memiliki daya serap air yang mendekati nol. Selain itu Roman memiliki teknologi dekorasi yang canggih dengan grafik yang nyata. Berbagi itu indah, demikian pula berkarya. Oleh karena itu Roman tidak berhenti hanya berbagi kepada 150 peserta Pre-event. Roman akan kembali hadir dalam Main Event Nava Sajiva yang akan dilaksanakan pada 12-16 Februari 2025 di Atrium 23 Paskal Shopping Centre Bandung. Semua pengunjung akan mendapatkan pengalaman tak terlupakan saat memasuki ruangan yang didesain khusus dan dibangun senyata dan seunik mungkin. Proyek ruang interior hasil kolaborasi Roman dengan Program Sarjana Desain Interior Universitas Kristen Maranatha, empat desainer interior dan arsitek ternama, serta mitra-mitra lain diharapkan mampu mengukir memori yang berkesan. Dengan demikian akan semakin banyak orang yang bisa turut andil dalam perkembangan desain interior dan konstruksi Indonesia. ***Roswati
Nava Sajiva Kick Off dari Univ. Kristen Maranatha
Rangkaian Pre-event dari Nava Sajiva mulai digelar sejak tanggal 21-23 Januari 2025 di Exhibition Hall Universitas Kristen Maranatha, Jl. Prof. drg. Surya Sumantri, M.P.H, No. 65, Bandung. Berbagai kegiatan workshop, sesi product knowledge, lomba, dan sharing dari mitra industri dan profesi diselenggarakan sehingga peserta memperoleh wawasan langsung tentang tren dan teknologi terkini. Nava Sajiva adalah sebuah proyek kolaborasi desain interior dari dunia akademisi, industri, dan profesional bersama berbagai bidang ilmu lain seperti arsitektur, teknik sipil, sistem informasi, dan bahkan hukum yang baru pertama kalinya diadakan di Bandung. Program Sarjana Desain Interior Universitas Kristen Maranatha merupakan penggagas sekaligus menjadi penyelenggara. Rangkaian kegiatan tersebut mengawali dari Main Event Nava Sajiva yang akan diselenggarakan di 23 Paskal Shopping Center, 12-16 Februari 2025 dengan skala yang jauh lebih besar dan meriah serta pengalaman ruang interior yang unik. Jiwa kolaborasi dan kebaruan dalam acara ini sejalan dengan makna nama Nava Sajiva yang berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu Nava (नव) yang artinya baru, terkini, modern, dan Sajiva/Sajeeva (सजीव) yang berarti hidup, bersemangat. Program Sarjana Desain Interior di bawah naungan Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif berkolaborasi secara intensif dengan Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas dan mitra-mitra industri dan profesional skala nasional dan internasional untuk membagikan semangat yang sama kepada masyarakat umum agar inovasi dan perkembangan dunia desain tidak hanya dilakukan dan dinikmati oleh warga ibukota, namun juga di Bandung sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia. Upaya inovasi dan pengembangan desain dalam rangkaian acara Nava Sajiva didukung penuh oleh Roman Granit, Taco, Smart Hometech, dan Moiehaus sebagai sponsor utama, dua belas sponsor lainnya, serta sebelas media partner. Di hari pertama Pre-event, Roman memfasilitasi product knowledge dan workshop “Public Space Material for Interior and Exterior” untuk hampir dua ratus peserta yang ingin belajar tentang material ideal untuk area dengan lalu lintas tinggi, finishing eksterior yang tahan cuaca, dan solusi yang berkelanjutan. Sedangkan di tanggal 22 Januari 2025, Taco mengadakan product knowledge dan workshop “Modular Furniture” yang dijamin mengubah cara berpikir kita mengenai berbagai kemungkinan eksplorasi dari desain furnitur moduler, di mana kreativitas dapat bertemu dengan fungsionalitas sehingga serbaguna, unik, sekaligus menjawab kebutuhan ruang dan pengguna. Di hari terakhir, Moiehaus yang memegang sembilan lini furniture highend dunia mengadakan workshop dan lomba “Interior Trend 2025 & Styling”. Kegiatan ini difasilitasi oleh Ruqayyah Cetta, S.Ds. selaku Visual Merchandiser Moiehaus sekaligus alumni Desain Interior Universitas Kristen Maranatha. Kesempatan para peserta lomba untuk mendapatkan kursi Panton ikonik karya Verner Panton (desainer asal Denmark) menjadi hal yang sangat dinanti-nanti dari acara ini. Selain kegiatan kolaborasi dengan sponsor, ada banyak kolaborasi dengan pakar profesional di bidangnya. Workshop “Back to Nature with Terrarium” di hari pertama difasilitasi oleh Zwasty Paskahlia Ramma, S.P., M.Ars., IAILI, seorang arsitek lanskap yang mengajarkan kita kembali terkoneksi dengan alam lewat pengalaman berkreasi membangun oasis hijau kecil terrarium penghias ruangan. Di hari ketiga, Della Octa, S.Ds. seorang desainer interior dan floral sekaligus Wakil Ketua Lembaga Sertifikasi Kompetensi Seni Merangkai Bunga dan Desain Floral serta alumni Desain Interior Universitas Kristen Maranatha mengajak kita untuk mengeksplorasi gaya dan teknik merangkai bunga yang dapat meningkatkan keindahan dan kesegaran dekorasi rumah. Masih di hari yang sama, Designer Talks 13 “Proteksi Profesi/Tenaga Ahli Desain Interior” hasil kolaborasi antara Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jabar dan Universitas Kristen Maranatha, Bandung mengajak peserta untuk melihat isu proteksi keprofesian desain interior dari sisi hukum, pemangku kebijakan, dan praktisi. **GBA
Tantangan Dosen Masa Kini dalam Menjaga Nilai Kebangsaan dan Pancasila
Kemajuan teknologi telah membawa berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat masa kini. Selain menjadi wadah penyebaran informasi yang tanpa batas dan ruang, dunia maya pun jadi tempat aktualisasi diri sekaligus tempat bersosialisasi bagi masyarakat, termasuk generasi muda. Hal ini pada akhirnya membentuk pola pikir dan gaya hidup baru yang sulit dipisahkan dari kehidupan generasi saat ini. Dunia digital mempertemukan individu dengan berbagai latar belakang serta nilai dan budaya yang beragam. Secara langsung berdampak pada menurunnya wawasan kebangsaan dan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda. Kondisinya kian diperburuk dengan munculnya berbagai konten negatif yang berpotensi mempengaruhi perilaku serta cara pandang generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan Dampak dari kemajuan teknologi ini menjadi tantangan bagi para pengajar, khususnya bagi dosen. Gaya interaksi, komunikasi, dan kebiasaan sehari-hari yang sebelumnya dipengaruhi oleh batasan tempat juga waktu kini mengalami pergeseran. Sebagai pengajar dan bagian dari institusi pendidikan, dosen memiliki peran penting dalam mencapai cita-cita dan tujuan NKRI, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mencapai cita-cita tersebut, seorang dosen harus mampu mengaplikasikan nilai-nilai kebangsaan yang tertuang dalam empat konsensus dasar kehidupan berbangsa dan bernegara: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dosen tidak hanya bertindak sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai luhur yang harus diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Melalui peran pengajar, dosen diharapkan dapat menjadi teladan untuk membentuk generasi muda yang memiliki rasa nasionalisme tinggi dan memegang teguh nilai kebangsaan dengan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi. Melalui pendidikan dan pengajaran, seorang dosen dapat memulai dengan cara-cara sederhana, baik melalui interaksi di dalam kelas maupun metode pengajaran. Salah satu contoh interaksi yang dapat dilakukan adalah dengan tidak mendiskriminasikan mahasiswa berdasarkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Selain itu, dalam kegiatan perkuliahan, dosen tidak hanya membahas materi utama perkuliahan, tetapi juga dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui diskusi singkat mengenai isu-isu kebangsaan yang sedang hangat, serta bagaimana sebaiknya mahasiswa bersikap di dunia digital. Dengan demikian, peran dosen sebagai pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing mahasiswa untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan dalam keseharian mereka. Melalui penelitian, seorang dosen dapat berinisiatif untuk melakukan kolaborasi riset dengan dosen lain, baik dalam bidang yang sama maupun lintas bidang, serta dengan mahasiswa. ”Less competition, More collaboration!” dapat menjadi semangat baru dalam pelaksanaan penelitian. Melalui kolaborasi, akan terbentuk sikap saling bergotong royong, penghargaan terhadap perbedaan pendapat, pengembangan toleransi, pemeliharaan kesatuan, dan penghindaran sikap individualistis. Selain itu, melalui budaya penelitian yang baik, Dosen dapat memberikan contoh dan mengajarkan kepada mahasiswa bagaimana mencari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan serta menuliskan hasil penelitian berdasarkan fakta atau data yang aktual dan dapat dipercaya. Dengan cara ini, mahasiswa dapat belajar secara langsung untuk memilah informasi yang diperoleh dari dunia digital dan terhindar dari hoaks. Melalui pengabdian kepada masyarakat, dosen dapat berkontribusi untuk ikut andil dalam penyelesaian masalah yang ada di masyarakat dengan melibatkan mahasiswa, sehingga mereka dapat belajar melihat permasalahan sosial. Sehingga mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi serta rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Dengan demikian, nilai-nilai kebangsaan yang diinterpretasikan melalui metode pengajaran dan interaksi selama perkuliahan diharapkan dapat menjadi kebiasaan positif yang terbentuk secara tidak langsung selama mahasiswa menimba ilmu di universitas. Ketika mahasiswa lulus, nilai-nilai tersebut akan melekat sebagai bagian dari jati diri mereka saat terjun ke masyarakat dan mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi. Akhirnya, keberhasilan pendidikan kebangsaan ini tidak hanya terletak pada metode yang diterapkan, tetapi juga pada komitmen dosen untuk terus mendampingi mahasiswa dalam proses pembentukan karakter dan identitas kebangsaan yang kokoh. Melalui peran aktif dan konsistensi dosen, generasi muda diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menjaga keutuhan bangsa dan melestarikan nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi. Dr. Alvina Kusumadewi Kuncoro, S.Si, M.Si,, Pemerhati Pendidikan
Tuesdays with Morrie: Pertemuan Selasa Memaknai Hidup
Karya Mitch Albom yang satu ini memang unik. Dibuat berdasarkan kuliah yang dijadwalkan setiap Selasa dengan sang profesor, Morrie Schwartz. Dimulai seusai sarapan. Kuliah itu bertema Makna Hidup, bahan-bahan kuliahnya digali dari pengalaman. Albom mulai berkisah dengan menceritakan Morrie dan istrinya, Charlotte, mendapatkan kabar yang tak menyenangkan. Morrie menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), atau penyakit Lou Gehrig, suatu penyakit ganas yang menyerang sistem saraf. Apakah hal ini membuat Morrie berdiam diri dan ‘menyerah’ begitu saja pada nasib? Ternyata tidak. Sebaliknya, Morrie membuat sisa hidupnya, hari-harinya, sebagai proyeknya yang terakhir. Morrie seperti kitab terbuka yang berkata: “Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” Disinilah Tuesday With Morrie pelan-pelan mengajak semua merenungkan kembali hal bermakna dalam hidup. Morrie mengutip ucapan Levinas, “Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.” Kita mungkin pernah mendengar atau menyaksikan kisah-kisah nyata ketika orang-orang yang tak saling kenal, bahu membahu, bertolong-tolongan dalam upaya penyelamatan mereka yang terkubur dalam reruntuhan bangunan akibat sebuah gempa dahsyat. Atau upaya menemukan mereka yang masih hidup diantara ribuan mayat akibat hempasan gelombang Tsunami. Apalagi alasannya, jika bukan karena cinta: perbuatan, tindakan yang rasional. Kita mungkin sering menghabiskan waktu untuk mengasihani diri sendiri, yang membuat perjalanan hidup mandek, padahal semestinya berlanjut dan diisi dengan beragam karya serta prestasi. Terjatuh itu biasa dalam hidup. Tapi jadi tidak wajar ketika kita membiarkan diri terkubur dalam kejatuhan itu, tanpa berupaya bangkit dan menata kembali hidup. Morrie mengingatkan kita agar mengerjakan segala sesuatu secara berbeda, bagaimana kita harus hidup dan menghayati dunia ini secara penuh, karena kita mestinya percaya akan kematian yang akan terjadi pada diri kita. Buku ini tak sekedar menyuguhkah kisah pertemuan setiap Selasa. Tak hanya sebuah catatan hidup dan bermakna yang masih relevan dan senantiasa ‘tumbuh’ di setiap zaman dalam tumbuh kembang peradaban umat manusia. Lebih dari itu, dialog-dialog yang terjadi antara Morrie dan Albom, semestinya menggugah kita untuk “berhenti sejenak”. Apakah tujuan hidup kita jelas dan kita sedang melangkah pada jalur yang semestinya dalam perspektif yang benar? Ataukah kita justru menyimpang terlalu jauh dalam memaknai dan menjalani hidup, karena arus deras “cuci otak” yang diciptakan – atau yang kita ciptakan – di sekitar kita membuat kita kehilangan arah? Apakah keberadaan kita dan apa yang kita lakukan telah relevan dengan apa yang sesungguhnya dibutuhkan dunia – terutama sesama manusia? **DW Judul Buku: Tuesdays with Morrie Penulis: Mitch Albom
Soe Hok-Gie… Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Lima puluh tahun yang lalu, Indonesia telah kehilangan salah satu anak bangsa terbaiknya di puncak tertinggi Pulau Jawa. Dia adalah akademisi, aktivis, humanis, dan pecinta alam yang berhasil menggagas perubahan sosial di tahun 1966 bersama kawan-kawan mahasiswanya yang lain. Dialah Soe Hok Gie, seorang pemuda yang tetap teguh pada perjuangan melawan ketidakadilan hingga akhir hayatnya. Tulisan-tulisan Gie yang terlihat melawan Orde Baru menyebabkan namanya seakan hilang dari catatan sejarah. Baru muncul lagi di era 1980-an ketika LP3ES, menerbitkan catatan hariannya dengan judul Catatan Seorang Demonstran (CSD). Buku ini berisi pandangan dan dokumentasi kegiatan Gie mulai dari SMP hingga bermetamorfosis menjadi seorang aktivis mahasiswa. Beberapa penerbit lain juga berupaya untuk mengingatkan lagi memori akan Soe Hok Gie melalui pembukuan hasil tulisannya. Mulai dari kumpulan artikelnya (Zaman Peralihan), skripsi sarjana muda (Di Bawah Lentera Merah), dan skripsi sarjana (Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan). Ada juga John Maxwell, yang membahas dinamika perjalanan semasa Gie masih hidup, khususnya periode ketika dia menjadi aktivis. Buku itu berjudul Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani. Saat memperingati 40 tahun kematian Gie, ada referensi tambahan. Buku dengan judul Soe Hok-Gie… Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Karya ini digagas oleh beberapa teman Gie semasa berkuliah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI). Buku ini berisi opini terhadap Soe Hok Gie dari berbagai pihak yang pernah bersentuhan dengan dirinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Buku ini memiliki sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan buku-buku Gie sebelumnya. Jika buku-buku sebelumnya selalu berisi mengenai opini sang demonstran pada dunia dan lingkungan sekitarnya, buku ini justru berisi mengenai opini dari dunia dan lingkungan sekitarnya pada pribadi aktivis ini. Hal itu pula yang membedakan buku ini dengan karya John Maxwell. Maxwell menulis Soe Hok Gie sebagai tokoh historis dan dianalisis secara akademis. Sementara, buku ini menceritakan sosok Soe Hok Gie sebagai seorang kawan, seorang guru dan dianalisis dengan lebih membumi karena didasarkan pada pengalaman pribadi. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadikan buku Soe Hok-Gie…Sekali Lagi layak untuk dibaca dan melengkapi referensi atas sosok Gie. Disamping itu, buku ini juga dapat mengubah stigma publik terhadap sosok yang telah dikultuskan sebagai aktivis, sehingga terkesan sangat jauh dan tidak terjangkau oleh pembaca. Padahal, sesungguhnya sosok Soe Hok Gie tak berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya, meski dirinya terkenal kritis dan tanpa tedeng aling-aling. Namun sekaligus inilah yang membuat saya tidak menyarankan buku ini dibaca sebagai perkenalan menuju dunia Soe Hok Gie, khususnya bagi para pembaca yang belum pernah mengonsumsi Catatan Seorang Demonstran, atau buku-buku Gie lainnya. Menurut pendapat saya, buku ini lebih bersifat komplementer terhadap buku-buku yang telah terbit sebelumnya. Catatan Seorang Demonstran masih merupakan karya paling baik mengenalkan sosok Soe Hok Gie. Film Gie pun sudah cukup memberikan gambaran umum bagaimana dinamika kehidupan Soe Hok Gie semasa kecil hingga menjadi aktivis mahasiswa, meski banyak kekurangan disana-sini. Meski demikian, buku ini layak dibaca dan dimiliki para pembaca yang mengidolakan Soe Hok Gie, ataupun bagi mereka yang ingin lebih mengenal sosok Soe Hok Gie. Tentunya dengan harapan agar Indonesia melahirkan lebih banyak pemuda yang memiliki integritas dan kegigihan seperti Soe Hok Gie. **PN Penulis: Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan R. (ed.) Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia dengan Univ. Indonesia, ILUNI Univ. Indonesia, dan KOMPAS Tebal: xxxix + 512 hlm