Mei lalu, atas undangan sebuah perusahaan pelat merah, saya bersama empat kolega dari ITB berangkat ke Bontang, Kalimantan Timur, memberikan pelatihan kewirausahaan kepada lulusan SMU yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena alasan ekonomi. Pelatihan itu merupakan salah satu kegiatan yang terangkum dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) – bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan. Selain memberikan pelatihan, kami juga diundang mengikuti jamuan makan malam dan acara seremonial lainnya.
Dalam jamuan makan itu, panitia memperkenalkan kami pada beberapa anak yang telah mengikuti USM dan diterima di tiga PTN. Juru bicara perusahaan mengatakan, bahwa perusahaan akan memberikan beasiswa penuh dan menanggung seluruh biaya hidup selama empat tahun kepada anak-anak tersebut. Seluruh penerima beasiswa adalah anak-anak berotak cemerlang dan berasal dari keluarga tidak mampu. Perusahaan juga telah memberikan beasiswa sejak anak-anak itu duduk di bangku SMU, serta membiayai mereka untuk mengikuti kursus bahasa Inggris dan bimbingan belajar. Tahun 2009 merupakan tahun kedua pelaksanaan pemberian beasiswa. Sebuah berita yang sangat menyejukkan hati.
Kemudian, Ketua PKBL menyampaikan suatu cerita menarik yang terjadi saat melepas calon mahasiswa di Bandara Sepinggan pada tahun 2008. Orang tua salah satu penerima beasiswa maju menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih. Mungkin karena begitu terharu ia tidak mampu menyampaikannya, tetapi yang terjadi kemudian, dengan tegas dan tangan terkepal bapak itu mengatakan, “Indonesia sudah merdeka!”. Kami spontan tertawa, karena sang ketua menceritakannya dengan jenaka. Kembali ke hotel, saya masih teringat dengan cerita itu, tetapi yang timbul bukan lagi lelucon, melainkan perasaan miris. Kemerdekaan baru mereka rasakan saat itu, padahal kali ini kita akan memperingati HUT kemerdekaan yang ke-64. Berapa banyak orang yang mungkin tidak akan pernah mengalami kemerdekaan seumur hidup?
Soal kualitas pendidikan. Kita bangga atas capaian-capaian pelajar yang mampu mengharumkan nama negara di kancah internasional. Dalam dua dasawarsa terakhir, para pelajar Indonesia mendulang puluhan medali dari berbagai olimpiade dan perlombaan lainnya. Indonesia tidak kalah dengan negara lain! Tetapi, mengapa pendidikan kita masih tertinggal dari negara lain? Kenyataannya, sistem pendidikan yang berlaku sampai saat ini hanya menyentuh sebagian kecil semesta pendidikan kita, masih menerapkan pengajaran dan belum menyentuh substansi pendidikan. Pertama, adanya pemaksaan untuk mengikuti kurikulum tanpa diberi kesempatan untuk memilih subjek yang diminati. Pada akhirnya, sistem ini hanya menciptakan robot yang unggul secara kognitif, tetapi tidak pada aspek-aspek lainnya. Kurikulum dan kebijakan pendidikan selalu berganti mengikuti pergantian menteri pendidikan.
Kedua, kesejahteraan guru. Guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Bagaimana seorang guru dapat mempersiapkan pelajaran dengan baik apabila sepulang mengajar masih harus kerja sampingan demi menopang kehidupannya – gaji tidak mencukupi. Masalah lain, harga buku yang mahal. Dengan gaji yang diterima, mustahil bagi seorang guru untuk membeli buku-buku penunjang kegiatan mendidik dan mengajar.
Terakhir, sistem nilai. Segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem pengajaran diakhiri dengan penilaian. Saya tidak anti dengan sistem tersebut, tetapi apakah seluruhnya harus dinilai secara kuantitatif? Hasil dari penerapan sistem ini bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi akan menciptakan sebuah kompetisi, sehingga setiap pelajar akan berusaha keras untuk mencapai posisi terbaik. Di sisi lain, sistem ini akan menciptakan sikap skeptis – dan lebih parah lagi apatis – pada pelajar yang memiliki kekurangan pada hal-hal tertentu, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran tidak akan pernah tercapai. Saya teringat pada pelajaran menggambar dan menyanyi. Mengapa harus dinilai dengan angka delapan, tujuh, atau lima? Dan ternyata masih berlangsung sampai saat ini. Alangkah lebih baik apabila kita bisa mencontoh Kak Tino Sidin yang akan mengapresiasi secara positif gambar setiap anak yang dikirimkan kepadanya.
Kita tidak ingin kenyataan-kenyataan di atas berlangsung terus-menerus. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan kesejahteraan bagi bangsa, sehingga kita tidak perlu menanyakan, “apakah kita sudah merdeka?”
Dirgahayu negaraku! Jayalah bangsaku!
